#Seringkali aku masih belum dapat menerima kalau kita telah berjalan
pada dua arus berbeda dan tak tau dimana ujung muaranya. Perasaanku masih saja
terdiri dari percampuran antara harapan kau kembali dan penyesalan atas
kesalahan masa lalumu, masih tetap seperti itu, masih..
#Pada sekat ruang hampa kau meninggalkan aku. Masih dengan aku yang
berharap kau kembali dan aku yang tak bisa memaafkan kesalahan masa lalumu. Kau
hanya kebingungan tak tau harus berbuat apa. Padahal kau berada tak jauh dari
hadapanku. Menghadapku, menatapku. Kau mendapati aku tetap seperti sediakala,
boneka perempuanmu yang usang-dengan senyummu yang kini aku tak lagi suka. Dan
aku sangat ingin mengakhiri hidupmu.
#Seandainya waktu bisa diulang aku tak ingin terjebak dalam kubangan
harapan. Kalau waktu bisa dihentikan aku ingin segera keluar dari lingkaran
cerita hidupmu. Namun tetap saja kau dan aku berada pada satu jalur kenangan.
Kau tetap berada pada masa laluku. Aku tetap berada pada masa lalumu.
#Hei, yang dulu itu aku belum sempat mencintaimu. Sekadar berharap.
Berharap aku dapat meyakinimu sebagai sumber bahagiaku. Namun itu dulu sebelum
penyesalan terlampu cepat mendahului tumbuhnya rasa. Kadang aku berdebat dengan
hati, bertengkar hebat dengan rasa sesal. Kadang juga aku bersyukur tak
dijadikan sejalan denganmu sebelum terlampau dalam rasa sesal teramat.
#Diam!! Aku kesakitan.. sedang dalam proses menuju keikhlasan.. lah
kamu bisanya cuma senyam senyum gak bantu apa apa. Tapi memangnya kamu bisa
apa?
No comments:
Post a Comment