Tuesday, July 16, 2013

Raut Mendung

Suatu hari aku ingin waktu berhenti sejenak. Saat kau dan aku tepat berada di satu momen. Matamu dan mataku bertemu pada satu titik pandang di bawah remang rembulan. Kau memberi satu kecupan hangat pada dahiku. Semakin aku tak ingin beranjak berlalu bersama waktu, semakin aku tak mampu kehilangan momen ini.

“Aku sayang kamu.” Suaranya memecah kebisuan malam itu.

Aku menelan ludah seolah ingin meyakinkan hati kalau dia baru saja mengucapkan suatu kebenaran. Aku berusaha sekuat tenaga agar bukan senyum getir yang keluar dari bibir ini melainkan senyum yang seharusnya ingin dia lihat dariku malam ini, senyum bahagia berkat kehadirannya.

Tangannya beralih menyentuh, menggenggam sela jemariku yang hampir beku tak tahan dinginnya malam musim ini. Sebelah tangannya menuntun arah kepalaku, mempersilahkan bersandar dibahunya kini. Oh, apakah kau hendak meyakinkanku kalau kau juga memiliki perasaan serupa denganku? Rasanya mustahil.

“Kamu gak marah kan, kalau aku cepat-cepat kembali ke Palembang?” Tanyanya sambil mengusap lembut rambutku.

“Di sana memang tempat mimpimu, kejarlah..” Ucapku berusaha terdengar tenang.

Aku tengah berargumen hebat dengan hatiku yang mulai tak dapat diajak satu suara. Wahai pikiran dan hatiku, bersahabatlah kini. Kumohon.. kali ini aku akan menggunakan pikiranku dengan baik. Aku berusaha meyakinkan Si hati bahwa semuanya akan baik saja.

Air mata yang hampir tak dapat lagi kubendung sudah dibawa entah kemana oleh angin. Si hati pun mengakui aku begitu piawai membuat air mata sebanyak itu enyah entah kemana. Katanya aku terlalu mahir menyembunyikan perasaan dari rupa khalayak.

“Bipp..bipp..!” Ponsel Kevin berbunyi.

Membuyarkan apa yang tadi sedang aku pikirkan. Membuat kepalaku refleks menghindar dari bahunya yang sempat membuat aku nyaman beberapa menit lalu.

Kevin mengambil ponsel dari saku celana kirinya kemudian dia menatap kearahku seolah ingin memberi isyarat agar aku berpura-pura sedang tak ada di sini.

“Halo Sayang..” Jawabnya pada seseorang diujung telepon dengan tutur begitu halus sambil menjauh dari tempatku duduk.

Ah, aku telah dapat menebak sedari tadi, kekasihnya menelepon.

“Iya aku lagi di jalan, nanti aku mampir ke rumahmu sebelum berangkat ke bandara.” Suara bermesraan itu.. bisa bisanya suara itu terdengar sampai tempatku duduk sekarang. Padahal posisi lelaki itu denganku cukup jauh.

Entahlah apa mungkin dia sengaja memperbesar volume suaranya karena kekasihnya itu sedang mengalami gangguan pendengaran? Yang jelas aku muak berlama-lama berada di tempat ini.

Aku berjalan menuju balkon kafe. Pemandangan balkon yang menghadap langsung ke tepi pantai lengkap dengan laut, suara ombak dan bunyi angin malam. Seharusnya aku dapat menikmati semua dengan syahdu, bukan sendu seperti ini.

Entah apa yang aku pikirkan hampir setahun belakangan, aku sangat tak bisa menjauh dari lelaki itu. Aku tahu. Aku yang pasti nantinya paling bersalah dalam hubungan ini. Aku tahu. Aku sering melamunkan hal ini dan aku sangat sering teringat perkataan Reni sahabatku.

***
“Bagaimanapun juga kamu berada pada pihak yang salah Dit, nantinya kamu akan tetap berada di posisi yang dipersalahkan! Tinggalkan lelaki itu.” Ucap Reni sambil mengelus bahuku.

“Tidak, aku sudah mencobanya.. tapi aku.. aku tak bisa.” Sisanya aku hanya dapat menangis merespon semua perkataan Reni.

Lambat laun Reni menunjukkan sikap sangat tak sukanya terhadap hubunganku dengan Kevin. Makin lama persahabatan kami meregang. Bulan setelah kami tak lagi satu kamar di kost sebenarnya membuatku sangat sedih kehilangannya, namun aku tetap mempertahankan hubunganku dengan Kevin.

***
Kini aku hanya bisa menangis tak berdaya menahan orang-orang yang aku sayangi untuk tetap tak beranjak pergi dariku. Aku selalu menangis mengingat Reni dan yang pasti aku selalu menangis saat menyadari bukan hanya aku yang mencintai Kevin

“Kenapa kamu keluar? Masuklah, di sini dingin.” Ucapan Kevin membuyarkan lamunanku.

Cepat-cepat aku menyeka air mata agar tak terlihat olehnya.

“Kevin ini sudah malam sebaiknya kita pulang saja, aku takut gerbang kost sudah dikunci.” Kataku memohon.

Dia menatapku lembut kemudian menyunggingkan senyuman khas dengan dua lesung pipi. Sungguh meneduhkan hati dan selama ini selalu membuatku selalu ingin berada di sisi Kevin.

Kevin merapatkan tubuhnya ke tubuh kurusku yang hanya sebatas bahunya. Dia memelukku kini seolah dia tak ingin mendengar kata-kata lagi dari mulutku, dia hanya ingin memelukku(mungkin).

“Aku akan selalu merindukanmu.” Bisiknya.

Seperti ada yang tengah menusuki dadaku hingga begitu sesak tak mampu berucap apapun pada Kevin. Bukankah Selly yang akan selalu kau rindukan? Aku juga ingin seperti gadis itu, selalu jadi milikmu dan kau.. kau selalu jadi milik Selly seutuhnya.

Tanganku membalas pelukannya lebih erat, makin erat, lebih erat dari pelukannya. Huhh air mataku, kini tak sanggup lagi aku membendungnya. Kali ini aku tak bisa membiarkannya tak semakin deras.

Beberapa menit kesunyian mengiringi kebersamaan kami membuat larut dalam pelukan, percampuran kerinduan dan perpisahan.

***
“Terima kasih untuk malam ini Bunny.” Katanya sambil tersenyum.

Aku membalas dengan senyum sejadi-jadinya. Ya.. itulah julukan yang dia berikan padaku. Aku hampir lupa kalau namaku Pradita tiap aku sedang bersama lelaki itu. Aku sangat gembira mendapat julukan dari seorang Kevin. Hal tersebut membuat aku merasa seperti dimiliki olehnya, walau separuh, walau tak utuh.

Tiba-tiba dia bergegas turun mendekat padaku yang sedang berusaha membuka gembok gerbang kost. Napasnya sedikit terengah karena baru saja berlari kecil kearahku. Tubuhnya sedikit membungkuk mengarahkan bibirnya di samping telingaku kemudian berbisik sesuatu...

“Aku mencintaimu.” Kemudian dia mencium keningku.

Aku tak mampu berkata. Aku tak dapat menanggapi lagi kata-katanya tersebut. Aku hanya dapat tercengang kemudian sibuk meyakinkan diri agar percaya pada kata katanya atau aku harus segera menyadarkan diriku agar tak terseret mimpi yang bukan bukan.

“Jaga dirimu baik baik Kevin.”

“Jaga dirimu juga untukku.”

Lagi-lagi aku hanya mampu tersenyum menanggapi perkataannya. Tubuh Kevin makin jauh dari pandangan mataku. Dia berbalik badan memasuki mobilnya dengan tetap tersenyum kepadaku, namun kini senyumku yang sedari tadi merekah berubah menjadi senyum penuh getir.

No comments:

Post a Comment