“Aku
sayang kamu.” Suaranya memecah kebisuan malam itu.
Aku menelan ludah seolah ingin meyakinkan hati kalau dia baru saja mengucapkan suatu kebenaran. Aku berusaha sekuat tenaga agar bukan senyum getir yang keluar dari bibir ini melainkan senyum yang seharusnya ingin dia lihat dariku malam ini, senyum bahagia berkat kehadirannya.
Tangannya
beralih menyentuh, menggenggam sela jemariku yang hampir beku tak tahan
dinginnya malam musim ini. Sebelah tangannya menuntun arah kepalaku, mempersilahkan
bersandar dibahunya kini. Oh, apakah kau hendak meyakinkanku kalau kau juga
memiliki perasaan serupa denganku? Rasanya mustahil.
“Kamu
gak marah kan, kalau aku cepat-cepat kembali ke Palembang?” Tanyanya sambil
mengusap lembut rambutku.
“Di
sana memang tempat mimpimu, kejarlah..” Ucapku berusaha terdengar tenang.
Aku
tengah berargumen hebat dengan hatiku yang mulai tak dapat diajak satu suara.
Wahai pikiran dan hatiku, bersahabatlah kini. Kumohon.. kali ini aku akan
menggunakan pikiranku dengan baik. Aku berusaha meyakinkan Si hati bahwa semuanya
akan baik saja.
Air
mata yang hampir tak dapat lagi kubendung sudah dibawa entah kemana oleh angin.
Si hati pun mengakui aku begitu piawai membuat air mata sebanyak itu enyah
entah kemana. Katanya aku terlalu mahir menyembunyikan perasaan dari rupa
khalayak.
“Bipp..bipp..!”
Ponsel Kevin berbunyi.
Membuyarkan apa yang tadi sedang aku pikirkan. Membuat kepalaku refleks menghindar dari bahunya yang sempat membuat aku nyaman beberapa menit lalu.
Kevin
mengambil ponsel dari saku celana kirinya kemudian dia menatap kearahku seolah
ingin memberi isyarat agar aku berpura-pura sedang tak ada di sini.
“Halo
Sayang..” Jawabnya pada seseorang diujung telepon dengan tutur begitu halus sambil
menjauh dari tempatku duduk.
Ah,
aku telah dapat menebak sedari tadi, kekasihnya menelepon.
“Iya
aku lagi di jalan, nanti aku mampir ke rumahmu sebelum berangkat ke bandara.” Suara
bermesraan itu.. bisa bisanya suara itu terdengar sampai tempatku duduk
sekarang. Padahal posisi lelaki itu denganku cukup jauh.
Entahlah
apa mungkin dia sengaja memperbesar volume suaranya karena kekasihnya itu sedang
mengalami gangguan pendengaran? Yang jelas aku muak berlama-lama berada di tempat
ini.
Aku
berjalan menuju balkon kafe. Pemandangan balkon yang menghadap langsung ke tepi
pantai lengkap dengan laut, suara ombak dan bunyi angin malam. Seharusnya aku
dapat menikmati semua dengan syahdu, bukan sendu seperti ini.
Entah
apa yang aku pikirkan hampir setahun belakangan, aku sangat tak bisa menjauh
dari lelaki itu. Aku tahu. Aku yang pasti nantinya paling bersalah dalam
hubungan ini. Aku tahu. Aku
sering melamunkan hal ini dan aku sangat sering teringat perkataan Reni
sahabatku.
***
“Bagaimanapun
juga kamu berada pada pihak yang salah Dit, nantinya kamu akan tetap berada di
posisi yang dipersalahkan! Tinggalkan lelaki itu.” Ucap Reni sambil mengelus
bahuku.
“Tidak,
aku sudah mencobanya.. tapi aku.. aku tak bisa.” Sisanya aku hanya dapat
menangis merespon semua perkataan Reni.
Lambat
laun Reni menunjukkan sikap sangat tak sukanya terhadap hubunganku dengan Kevin.
Makin lama persahabatan kami meregang. Bulan setelah kami tak lagi satu kamar
di kost sebenarnya membuatku sangat sedih kehilangannya, namun aku tetap
mempertahankan hubunganku dengan Kevin.
***
Kini
aku hanya bisa menangis tak berdaya menahan orang-orang yang aku sayangi untuk
tetap tak beranjak pergi dariku. Aku selalu menangis mengingat Reni dan yang pasti
aku selalu menangis saat menyadari bukan hanya aku yang mencintai Kevin
“Kenapa
kamu keluar? Masuklah, di sini dingin.” Ucapan Kevin membuyarkan lamunanku.
Cepat-cepat aku menyeka air mata agar tak terlihat olehnya.
“Kevin ini sudah malam sebaiknya
kita pulang saja, aku takut gerbang kost sudah dikunci.” Kataku memohon.
Dia menatapku lembut kemudian
menyunggingkan senyuman khas dengan dua lesung pipi. Sungguh meneduhkan hati dan
selama ini selalu membuatku selalu ingin berada di sisi Kevin.
Kevin merapatkan tubuhnya ke tubuh
kurusku yang hanya sebatas bahunya. Dia memelukku kini seolah dia tak ingin mendengar
kata-kata lagi dari mulutku, dia hanya ingin memelukku(mungkin).
“Aku akan selalu merindukanmu.” Bisiknya.
Seperti ada yang tengah menusuki dadaku
hingga begitu sesak tak mampu berucap apapun pada Kevin. Bukankah Selly yang
akan selalu kau rindukan? Aku juga ingin seperti gadis itu, selalu jadi milikmu
dan kau.. kau selalu jadi milik Selly seutuhnya.
Tanganku membalas pelukannya lebih
erat, makin erat, lebih erat dari pelukannya. Huhh air mataku, kini tak sanggup
lagi aku membendungnya. Kali ini aku tak bisa membiarkannya tak semakin deras.
Beberapa menit kesunyian
mengiringi kebersamaan kami membuat larut dalam pelukan, percampuran kerinduan
dan perpisahan.
***
“Terima
kasih untuk malam ini Bunny.” Katanya sambil tersenyum.
Aku
membalas dengan senyum sejadi-jadinya. Ya.. itulah julukan yang dia berikan
padaku. Aku hampir lupa kalau namaku Pradita tiap aku sedang bersama lelaki itu.
Aku sangat gembira mendapat julukan dari seorang Kevin. Hal tersebut membuat
aku merasa seperti dimiliki olehnya, walau separuh, walau tak utuh.
Tiba-tiba
dia bergegas turun mendekat padaku yang sedang berusaha membuka gembok gerbang
kost. Napasnya sedikit terengah karena baru saja berlari kecil kearahku.
Tubuhnya sedikit membungkuk mengarahkan bibirnya di samping telingaku kemudian
berbisik sesuatu...
“Aku
mencintaimu.” Kemudian dia mencium keningku.
Aku
tak mampu berkata. Aku tak dapat menanggapi lagi kata-katanya tersebut. Aku
hanya dapat tercengang kemudian sibuk meyakinkan diri agar percaya pada kata
katanya atau aku harus segera menyadarkan diriku agar tak terseret mimpi yang
bukan bukan.
“Jaga
dirimu baik baik Kevin.”
“Jaga
dirimu juga untukku.”
Lagi-lagi
aku hanya mampu tersenyum menanggapi perkataannya. Tubuh Kevin makin jauh dari
pandangan mataku. Dia berbalik badan memasuki mobilnya dengan tetap tersenyum
kepadaku, namun kini senyumku yang sedari tadi merekah berubah menjadi senyum penuh
getir.
No comments:
Post a Comment