Saya cuma butuh teman tulus, bukan parasit setia macam anda.
Wednesday, July 31, 2013
..choice
Saturday, July 27, 2013
II on the spot II ARTJOG’13 II
Setelah tahun lalu
ART|JOG mengusung tema ‘Looking East – A Gaze of Indonesian Contemporary Art’,
tahun ini ART | JOG|13 melanjutkan tema tersebut, namun lebih fokus pada
masalah Budaya Maritim (Maritime Culture).
Tema ini dimaksudkan sebagai pintu masuk pada pola pikir maritim, yang sebenarnya sangat lekat dengan bangsa Indonesia dan juga bangsa-bangsa lain yang mempunyai wilayah laut, namun sekarang secara terstruktur menjadi dilupakan. Sebagaimana kita ketahui, pola pikir yang membentuk peradaban dunia secara garis besar dibagi menjadi dua macam, yaitu peradaban daratan [kontinental] dan peradaban kelautan [maritim].

[opening] prepare's video of ARTJOG'13

the first shoot

ocean ocean ocean..

I think it's cool

3D
Tema ini dimaksudkan sebagai pintu masuk pada pola pikir maritim, yang sebenarnya sangat lekat dengan bangsa Indonesia dan juga bangsa-bangsa lain yang mempunyai wilayah laut, namun sekarang secara terstruktur menjadi dilupakan. Sebagaimana kita ketahui, pola pikir yang membentuk peradaban dunia secara garis besar dibagi menjadi dua macam, yaitu peradaban daratan [kontinental] dan peradaban kelautan [maritim].
favorit aku :)

[edwin raharjo-light rhythm teak wood aluminum dural brass bronze-185x63x45cm-2012]
[roby dwi antono-lamalera lama-lama ooc-80x60cm-2013]
[erik ernawan-erika pauhrizi-01 a homo sapiens with a silver skull photography diasec unique edition-150x90cm-2013]
[heri purwanto-lupa daratan lupa lautan aoc-130x210cm-2013]
artfairjogja.com
Sebenernya ARTJOG'13 udah opening dari tanggal 6 Juli, tapi aku baru sempet kesana malah baru pas hari terakhir. Sehabis buber sama Rahma sama Dedi. 19:15 on the way TBY.
..and awesome...

[opening] prepare's video of ARTJOG'13

the first shoot

ocean ocean ocean..

I think it's cool

3D
Maaf, waktunya nge'eksis'in kamera :*
Finally,
..what a wonderfull event
Friday, July 26, 2013
catetan buat aku(buat dia)
..ketika yang menyebut diri sebagai
teman, kehilangan esensi sebagai teman..
Ketika yang seharusnya dihormati sebagai teman, sekarang gue cuma bisa bilang-kalo gue gak bisa lagi-respek sama loe. Ketika pertemanan seharusnya dilandasi ketulusan, pada setiap jengkalnya kudapati nihil. Ooo..(kemarin)mungkin(semua) hanya dijadikan alasan, alibi, modus, dan kata-kata semacamnya. Ketika yang menyebut diri sebagai teman, (perlukah) mendikte agar aku sesempurna dia(?)
Ketika yang seharusnya dihormati sebagai teman, sekarang gue cuma bisa bilang-kalo gue gak bisa lagi-respek sama loe. Ketika pertemanan seharusnya dilandasi ketulusan, pada setiap jengkalnya kudapati nihil. Ooo..(kemarin)mungkin(semua) hanya dijadikan alasan, alibi, modus, dan kata-kata semacamnya. Ketika yang menyebut diri sebagai teman, (perlukah) mendikte agar aku sesempurna dia(?)
Sunday, July 21, 2013
cuplikan*
“Kemana aja kamu waktu aku dulu pernah (terlalu) ngarepin kamu? Kenapa
sekarang balik lagi pas aku udah sama yang lain?” -rasanya pengen nunjukin
dialog ini ke kamu
#backsound Afgan-Kusesali
cerita yang kini terjadi mengapa disaat ku telah berdua...
rupa sesal 2 (argumen sesal)
#Seringkali aku masih belum dapat menerima kalau kita telah berjalan
pada dua arus berbeda dan tak tau dimana ujung muaranya. Perasaanku masih saja
terdiri dari percampuran antara harapan kau kembali dan penyesalan atas
kesalahan masa lalumu, masih tetap seperti itu, masih..
#Pada sekat ruang hampa kau meninggalkan aku. Masih dengan aku yang
berharap kau kembali dan aku yang tak bisa memaafkan kesalahan masa lalumu. Kau
hanya kebingungan tak tau harus berbuat apa. Padahal kau berada tak jauh dari
hadapanku. Menghadapku, menatapku. Kau mendapati aku tetap seperti sediakala,
boneka perempuanmu yang usang-dengan senyummu yang kini aku tak lagi suka. Dan
aku sangat ingin mengakhiri hidupmu.
#Seandainya waktu bisa diulang aku tak ingin terjebak dalam kubangan
harapan. Kalau waktu bisa dihentikan aku ingin segera keluar dari lingkaran
cerita hidupmu. Namun tetap saja kau dan aku berada pada satu jalur kenangan.
Kau tetap berada pada masa laluku. Aku tetap berada pada masa lalumu.
#Hei, yang dulu itu aku belum sempat mencintaimu. Sekadar berharap.
Berharap aku dapat meyakinimu sebagai sumber bahagiaku. Namun itu dulu sebelum
penyesalan terlampu cepat mendahului tumbuhnya rasa. Kadang aku berdebat dengan
hati, bertengkar hebat dengan rasa sesal. Kadang juga aku bersyukur tak
dijadikan sejalan denganmu sebelum terlampau dalam rasa sesal teramat.
#Diam!! Aku kesakitan.. sedang dalam proses menuju keikhlasan.. lah
kamu bisanya cuma senyam senyum gak bantu apa apa. Tapi memangnya kamu bisa
apa?
Saturday, July 20, 2013
rupa sesal
i| Semalam aku seperti melihat rupa sesal.. masuk
dalam ke-tidak-konsisten-an-mu, hampir tenggelam dalam kubangan harapan dan
tersesat dalam candu munafik-mu. Aku sangat menyesal atas semua ini.
ii| Aku baru
tahu seperti apa rupa sesal itu. Tergambar jelas pada rupa dirimu, dari samar
hanya berbentuk goresan hingga aku sadar goresan itu berubah jadi rupa lukismu.
Baru tahulah aku apa itu rupa sesal. Dirimulah.
Dirimulah. Rupa sesalku.
Friday, July 19, 2013
dari 20.03.13
Saat berusaha
bangkit untuk berdiri di samping seseorang, sangat sulit dan melelahkan untuk
meninggalkan masa lalu. Saat seseorang tersebut yang justru menjadi sebab terjatuh
kembali, rasanya amat menyakitkan. Apa
gunanya aku disini..nyatanya kamu tak membutuhkanku. Rasanya aku ingin
hilang saja. Aku tak mampu lagi memandangi matahari pagi dengan penuh harap, aku
tak lagi berani. Rasanya aku ingin lenyap saja bersama penyesalan buatmu.
Akhir cerita.
Akhir cerita.
Tuesday, July 16, 2013
Raut Mendung
Suatu
hari aku ingin waktu berhenti sejenak. Saat kau dan aku tepat berada di satu
momen. Matamu dan mataku bertemu pada satu titik pandang di bawah remang rembulan.
Kau memberi satu kecupan hangat pada dahiku. Semakin aku tak ingin beranjak berlalu
bersama waktu, semakin aku tak mampu kehilangan momen ini.
Aku menelan ludah seolah ingin meyakinkan hati kalau dia baru saja mengucapkan suatu kebenaran. Aku berusaha sekuat tenaga agar bukan senyum getir yang keluar dari bibir ini melainkan senyum yang seharusnya ingin dia lihat dariku malam ini, senyum bahagia berkat kehadirannya.
Membuyarkan apa yang tadi sedang aku pikirkan. Membuat kepalaku refleks menghindar dari bahunya yang sempat membuat aku nyaman beberapa menit lalu.
***
***
Cepat-cepat aku menyeka air mata agar tak terlihat olehnya.
***
“Aku
sayang kamu.” Suaranya memecah kebisuan malam itu.
Aku menelan ludah seolah ingin meyakinkan hati kalau dia baru saja mengucapkan suatu kebenaran. Aku berusaha sekuat tenaga agar bukan senyum getir yang keluar dari bibir ini melainkan senyum yang seharusnya ingin dia lihat dariku malam ini, senyum bahagia berkat kehadirannya.
Tangannya
beralih menyentuh, menggenggam sela jemariku yang hampir beku tak tahan
dinginnya malam musim ini. Sebelah tangannya menuntun arah kepalaku, mempersilahkan
bersandar dibahunya kini. Oh, apakah kau hendak meyakinkanku kalau kau juga
memiliki perasaan serupa denganku? Rasanya mustahil.
“Kamu
gak marah kan, kalau aku cepat-cepat kembali ke Palembang?” Tanyanya sambil
mengusap lembut rambutku.
“Di
sana memang tempat mimpimu, kejarlah..” Ucapku berusaha terdengar tenang.
Aku
tengah berargumen hebat dengan hatiku yang mulai tak dapat diajak satu suara.
Wahai pikiran dan hatiku, bersahabatlah kini. Kumohon.. kali ini aku akan
menggunakan pikiranku dengan baik. Aku berusaha meyakinkan Si hati bahwa semuanya
akan baik saja.
Air
mata yang hampir tak dapat lagi kubendung sudah dibawa entah kemana oleh angin.
Si hati pun mengakui aku begitu piawai membuat air mata sebanyak itu enyah
entah kemana. Katanya aku terlalu mahir menyembunyikan perasaan dari rupa
khalayak.
“Bipp..bipp..!”
Ponsel Kevin berbunyi.
Membuyarkan apa yang tadi sedang aku pikirkan. Membuat kepalaku refleks menghindar dari bahunya yang sempat membuat aku nyaman beberapa menit lalu.
Kevin
mengambil ponsel dari saku celana kirinya kemudian dia menatap kearahku seolah
ingin memberi isyarat agar aku berpura-pura sedang tak ada di sini.
“Halo
Sayang..” Jawabnya pada seseorang diujung telepon dengan tutur begitu halus sambil
menjauh dari tempatku duduk.
Ah,
aku telah dapat menebak sedari tadi, kekasihnya menelepon.
“Iya
aku lagi di jalan, nanti aku mampir ke rumahmu sebelum berangkat ke bandara.” Suara
bermesraan itu.. bisa bisanya suara itu terdengar sampai tempatku duduk
sekarang. Padahal posisi lelaki itu denganku cukup jauh.
Entahlah
apa mungkin dia sengaja memperbesar volume suaranya karena kekasihnya itu sedang
mengalami gangguan pendengaran? Yang jelas aku muak berlama-lama berada di tempat
ini.
Aku
berjalan menuju balkon kafe. Pemandangan balkon yang menghadap langsung ke tepi
pantai lengkap dengan laut, suara ombak dan bunyi angin malam. Seharusnya aku
dapat menikmati semua dengan syahdu, bukan sendu seperti ini.
Entah
apa yang aku pikirkan hampir setahun belakangan, aku sangat tak bisa menjauh
dari lelaki itu. Aku tahu. Aku yang pasti nantinya paling bersalah dalam
hubungan ini. Aku tahu. Aku
sering melamunkan hal ini dan aku sangat sering teringat perkataan Reni
sahabatku.
***
“Bagaimanapun
juga kamu berada pada pihak yang salah Dit, nantinya kamu akan tetap berada di
posisi yang dipersalahkan! Tinggalkan lelaki itu.” Ucap Reni sambil mengelus
bahuku.
“Tidak,
aku sudah mencobanya.. tapi aku.. aku tak bisa.” Sisanya aku hanya dapat
menangis merespon semua perkataan Reni.
Lambat
laun Reni menunjukkan sikap sangat tak sukanya terhadap hubunganku dengan Kevin.
Makin lama persahabatan kami meregang. Bulan setelah kami tak lagi satu kamar
di kost sebenarnya membuatku sangat sedih kehilangannya, namun aku tetap
mempertahankan hubunganku dengan Kevin.
***
Kini
aku hanya bisa menangis tak berdaya menahan orang-orang yang aku sayangi untuk
tetap tak beranjak pergi dariku. Aku selalu menangis mengingat Reni dan yang pasti
aku selalu menangis saat menyadari bukan hanya aku yang mencintai Kevin
“Kenapa
kamu keluar? Masuklah, di sini dingin.” Ucapan Kevin membuyarkan lamunanku.
Cepat-cepat aku menyeka air mata agar tak terlihat olehnya.
“Kevin ini sudah malam sebaiknya
kita pulang saja, aku takut gerbang kost sudah dikunci.” Kataku memohon.
Dia menatapku lembut kemudian
menyunggingkan senyuman khas dengan dua lesung pipi. Sungguh meneduhkan hati dan
selama ini selalu membuatku selalu ingin berada di sisi Kevin.
Kevin merapatkan tubuhnya ke tubuh
kurusku yang hanya sebatas bahunya. Dia memelukku kini seolah dia tak ingin mendengar
kata-kata lagi dari mulutku, dia hanya ingin memelukku(mungkin).
“Aku akan selalu merindukanmu.” Bisiknya.
Seperti ada yang tengah menusuki dadaku
hingga begitu sesak tak mampu berucap apapun pada Kevin. Bukankah Selly yang
akan selalu kau rindukan? Aku juga ingin seperti gadis itu, selalu jadi milikmu
dan kau.. kau selalu jadi milik Selly seutuhnya.
Tanganku membalas pelukannya lebih
erat, makin erat, lebih erat dari pelukannya. Huhh air mataku, kini tak sanggup
lagi aku membendungnya. Kali ini aku tak bisa membiarkannya tak semakin deras.
Beberapa menit kesunyian
mengiringi kebersamaan kami membuat larut dalam pelukan, percampuran kerinduan
dan perpisahan.
***
“Terima
kasih untuk malam ini Bunny.” Katanya sambil tersenyum.
Aku
membalas dengan senyum sejadi-jadinya. Ya.. itulah julukan yang dia berikan
padaku. Aku hampir lupa kalau namaku Pradita tiap aku sedang bersama lelaki itu.
Aku sangat gembira mendapat julukan dari seorang Kevin. Hal tersebut membuat
aku merasa seperti dimiliki olehnya, walau separuh, walau tak utuh.
Tiba-tiba
dia bergegas turun mendekat padaku yang sedang berusaha membuka gembok gerbang
kost. Napasnya sedikit terengah karena baru saja berlari kecil kearahku.
Tubuhnya sedikit membungkuk mengarahkan bibirnya di samping telingaku kemudian
berbisik sesuatu...
“Aku
mencintaimu.” Kemudian dia mencium keningku.
Aku
tak mampu berkata. Aku tak dapat menanggapi lagi kata-katanya tersebut. Aku
hanya dapat tercengang kemudian sibuk meyakinkan diri agar percaya pada kata
katanya atau aku harus segera menyadarkan diriku agar tak terseret mimpi yang
bukan bukan.
“Jaga
dirimu baik baik Kevin.”
“Jaga
dirimu juga untukku.”
Lagi-lagi
aku hanya mampu tersenyum menanggapi perkataannya. Tubuh Kevin makin jauh dari
pandangan mataku. Dia berbalik badan memasuki mobilnya dengan tetap tersenyum
kepadaku, namun kini senyumku yang sedari tadi merekah berubah menjadi senyum penuh
getir.
Monday, July 15, 2013
di sisi Tuhan
Lihat jalan menuju sisi Tuhan ini
alurnya berkelok
permukaannya terjal
Semua pengguna jalan menuju satu ruang sama
suatu hari pasti berkumpul
di sanalah
di sisi Tuhan
semua pasti kembali
alurnya berkelok
permukaannya terjal
Semua pengguna jalan menuju satu ruang sama
suatu hari pasti berkumpul
di sanalah
di sisi Tuhan
semua pasti kembali
Sunday, July 14, 2013
refleksi
TAHUKAH
Tahukah? Aku ingin berjalan beriringan denganmu, walau sehari (lagi)
Tahukah? Aku ingin mengayuh sepedaku lebih jauh (lagi), bersamamu
Tahukah? Aku ingin jadi yang pertama kau panggil saat kau butuh bantuan, walau untuk sekali (lagi)
Namun
Tahukah??
Tahukah sayang? Keadaan tak ijinkan kita bersama lebih lama
Tahukah sayang? Kubiarkan ketentuan merenggutmu paksa dariku
Tahukah sayang? Itu lebih dari menyakitkan
Tahukan sayang? Begitu hebatnya duka ini
Tahukah??
Baru saja aku mengatakan ingin bersamamu selamanya
Dan
Tahukah??
Apapun akan kulakukan demi dapat mengulang waktu, tapi aku tak kuasa (lagi)
Namun
Tahukah sayang? Perasaanku padamu lebih nyata dari apapun
Ini kekal.
Tahukah? Aku ingin mengayuh sepedaku lebih jauh (lagi), bersamamu
Tahukah? Aku ingin jadi yang pertama kau panggil saat kau butuh bantuan, walau untuk sekali (lagi)
Namun
Tahukah??
Tahukah sayang? Keadaan tak ijinkan kita bersama lebih lama
Tahukah sayang? Kubiarkan ketentuan merenggutmu paksa dariku
Tahukah sayang? Itu lebih dari menyakitkan
Tahukan sayang? Begitu hebatnya duka ini
Tahukah??
Baru saja aku mengatakan ingin bersamamu selamanya
Dan
Tahukah??
Apapun akan kulakukan demi dapat mengulang waktu, tapi aku tak kuasa (lagi)
Namun
Tahukah sayang? Perasaanku padamu lebih nyata dari apapun
Ini kekal.
Kecupanmu-Bergumam
“Kecupanmu itu, sangat mengganggu. Mengganggu kesadaranku
selama ini. Mengganggu waktu tidurku di malam hari. Mengganggu hari hariku
sekarang. Rasanya masih lekat di keningku. Kecupanmu itu, sangat istimewa.
Mengistimewakan rasa gembira yang sederhana di dadaku. Kecupanmu itu.. yang
terhangat, menghangatkan seluruhnya yang ada padaku hingga penjuru duniaku, aku
tak perlu lagi takut kedinginan. Kecupanmu itu, sudah cukup menyiratkan apa
yang kau rasakan padaku.. tanpa kau harus berkata lebih banyak lagi.”
Ingin #2
Ingin dekatmu, ku tak berani
Ingin menyayangmu, ku takut
Ingin menyayangmu, ku takut
Ingin mencintaimu, ku tak ada nyali
Ingin milikimu, tapi apalah ini..ku tak kuasa
Begitu berat mencintaimu (mengapa?) hingga terkadang aku menyerah, ingin menyudahi perasaan ini, namun amat berat, aku hampir gila.
Begitu berat mencintaimu (mengapa?) siapalah aku dibanding dirimu yg begitu istimewa, membuat ciut nyaliku, sesekali menyerah karena perasaan menggebu ini sangat siksa.
Namun melupakanmu bisa jadi membunuhku lebih cepat dari pada rasa ini.
Saturday, July 13, 2013
13/07/13[20:31]
Sedih. Merasa memberikan sesuatu yang tidak berguna buat dia. Tapi seharusnya kalau sudah diberikan sama orang ya gausah diinget inget lagi lah Des.. ikhlasin, itu hak dia. Ah sudahlah lupakan.
Thursday, July 11, 2013
akhir
Sehabis purnama semalam, pertemuan terakhirku denganmu. Akhirnya terucap juga kata-kata itu dari mulutmu. Entah aku tak dapat merespon apapun pada kata-katamu. Aku seperti telah tau kau akan melakukan semua ini. Aku hanya seperti menunggu waktu yang tepat menerima rancangan kata-katamu. Akhirnya setelah sekian waktu. Akhirnya aku tahu muara cerita ini. Akhirnya..
#backsound Raisa-Firasat
Monday, July 8, 2013
Ingin
Rasanya, aku ingin tetap percaya bahwa perasaan ini ada. Aku
ingin tetap percaya bahwa kau simpan perasaan serupa. Aku ingin tetap percaya
suatu saat kau pertanyakan kembali perasaanku padamu. Aku ingin tetap percaya
suatu hari kau pinta aku memiliki perasaan yg sama terhadapmu seumur hidup. Kini
ku hanya ingin tak sampai putus berharap padamu. Kini ku hanya ingin tak merasa
penantian melelahkan.
Pada Hujan
Kadang aku ingin merengek pada hujan supaya derasnya bergegas membawa pergi semua kenangan tentangmu. Sampai basah yang ditimbulkan hujan itu mengering aku akan tetap merengek supaya memori tentangmu ikut mengering tanpa harus berbekas setelah memori tersebut menghilang.
Kemana ku akan..
Kemana lagi akan kucari sorot mata sepertimu yang selalu
indah diterpa cahaya sendu senja hari
Kemana kemudian aku akan menemukan lelaki sepertimu wahai tuan
berwajah penuh damai
Di tengah hujan keremangan senja aku sangsi kebersamaan kita
berakhir di sini
Di ujung senja penuh harap memulai malam panjang, seharusnya
ini awal kita memulai kelana
Namun ucapan selamat berpisah lebih dahulu mengakhiri hari
Janji untuk Penghujung Sore
Ku nanti kau di penghujung sore. Pada waktu dimana telah kau janjikan pada pertemuan sebelumnya di sini. Kau akan kembali pada kota ini dan aku kembali menemukan harapan baru yang sebelumnya hampir pupus. Kau menjanjikan itu, ya benar kau menjanjikan kepulanganmu.
Sunday, July 7, 2013
Ari Lasso - Tuhan Kau Tahu
[Doaku beserta lagu ini]
Kau tahu mengapa
Percintaan ini
Kembali terjadi
Tuhan semoga ini menjadi
Suratan takdirku
Hidup bersamanya
Hingga maut memisahkan
Tuhan semoga ini terjadi
Tuhan Kau tahu
Cintaku tlah jatuh kepadanya
Hati dan juga hidupku
Tlah kuserahkan kepadanya
Tuhan Kau tahu
Kau tahu betapa
Ingin ku jalani
Sisa hidup ini
Hanya dirinya di sisiku
Tuhan Kau tahu
Cintaku tlah jatuh kepadanya
Hati dan juga hidupku
Tlah kuserahkan kepadanya
Tuhan Kau tahu
Tuhan Kau tahu
Hati dan juga hidupku
Tlah kuserahkan kepadanya
Tuhan Kau tahu
sehabis senja
Sehabis senja beranjak
Ketika letih mendera
Semakin mengamati tempatku berpijak
Jalan setapak kulalui tanpa irama
Ketika letih mendera
Semakin mengamati tempatku berpijak
Jalan setapak kulalui tanpa irama
Wahai malam tanpa bintang
Kulihat kau begitu sepi
Kurasa kau menyimpan dengki
Pada gemerisik daun rindang
Kulihat kau begitu sepi
Kurasa kau menyimpan dengki
Pada gemerisik daun rindang
Tak sengaja beradu tatap
Wajah rembulan kala itu
Pada tengah cerita senyap
Dihembus angin berlalu
Wajah rembulan kala itu
Pada tengah cerita senyap
Dihembus angin berlalu
Wahai wajah rembulan
Mengapa begitu sendu
Mungkinkah menanti pujaan
Mungkinkah menanggung rindu
Mengapa begitu sendu
Mungkinkah menanti pujaan
Mungkinkah menanggung rindu
Subscribe to:
Comments (Atom)














