Monday, September 30, 2013

inspired by raisa-apalah arti menunggu

Anita menahan napas beberapa saat, matanya ikut terpejam. Dia berdoa bisa melupakan Satrio selama mungkin. Dia menggeser posisi duduknya melesat ke depan, sekarang dia beralih pada posisi tidur. Air dalam bathub meluap-luap membasahi lantai kini. Gadis itu ingin tetap memejamkan mata dan terus menerus tak ingin bernapas. “Aku mau lupa! Aku mau lupa!” batinnya. Sepertinya kali ini Satrio benar-benar membuatnya tak berdaya. Anita tak habis pikir lelaki tumpuan asanya yang sangat berlimpah, lelaki yang membuat gadis itu berani berharap kembali terhadap seseorang. Anita menunggu hingga pada suatu siang dengan berat hati dia ingin bilang tak sanggup lagi menunggu. Namun masih bercampur juga dengan perasaan yang ia sebut cinta itu, sehingga ia enggan bicara kalau tak ingin lagi menunggu.
●●●
“.. kalau bukan hanya aku yang menanam asa padamu, tapi juga perempuan itu” katanya menunjuk perempuan yang duduk diam di samping ranjang Satrio. Kenyataan memang sebagaimana yang sudah tampak.
●●●
Bila harus terasa menyakitkan itu pasti karena aku harus menerima kenyataan untuk tak dapat memilikimu.

No comments:

Post a Comment