Anita menahan napas
beberapa saat, matanya ikut terpejam. Dia berdoa bisa melupakan Satrio selama
mungkin. Dia menggeser posisi duduknya melesat ke depan, sekarang dia beralih
pada posisi tidur. Air dalam bathub meluap-luap membasahi lantai kini. Gadis itu
ingin tetap memejamkan mata dan terus menerus tak ingin bernapas. “Aku mau
lupa! Aku mau lupa!” batinnya. Sepertinya kali ini Satrio benar-benar membuatnya
tak berdaya. Anita tak habis pikir lelaki tumpuan asanya yang sangat berlimpah,
lelaki yang membuat gadis itu berani berharap kembali terhadap seseorang. Anita
menunggu hingga pada suatu siang dengan berat hati dia ingin bilang tak sanggup
lagi menunggu. Namun masih bercampur juga dengan perasaan yang ia sebut cinta
itu, sehingga ia enggan bicara kalau tak ingin lagi menunggu.
●●●
“.. kalau bukan hanya
aku yang menanam asa padamu, tapi juga perempuan itu” katanya menunjuk perempuan
yang duduk diam di samping ranjang Satrio. Kenyataan memang sebagaimana yang
sudah tampak.
●●●