Hampir habis nyaliku, berlama
lama mengejar lelaki sepertimu. Sejak kutanam keyakinan bahwa kamu yang
akhirnya terbaik, bersama itu juga keyakinan tersebut mulai pupus dengan
sendirinya. Berkali kali keluh
kesah pada-Nya, mencari tahu siapa yang sekiranya Dia setujui untukku. Sementara
aku berlalu bersama waktu, namun makin memupuk keyakinan untukmu. Apakah Dia hendak
mengungkapkan tidak? Setidaknya aku sedikit tahu, namun belum bisa mengerti
maksud-Nya. Tetap bersikukuh dengan perasaan bodoh kian menggilas akal sehatku. Ini pembodohan! Tetapi
aku tak dapat terima jika ini disebut pembodohan! Walau aku tahu, memang
pendapat bodohkulah yang tertutupi ambisi baik untuk lelaki sepertimu.
Berapa lama lagi aku
harus menunggu? Atau harus tergesa menerimamu sebagai teman hidup yang baru? Masih
ada bimbang di antara persimpangan dan petunjuk yang mungkin berusaha mencegahku pada
orang yang salah.
No comments:
Post a Comment